![]() |
| @foto:florestourguide |
Legenda Tengku Siwa Manggarai, Flores, NTT
Di sebuah lembah hijau di balik hutan rimba Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mengalir sebuah air terjun yang jatuh dari tebing tinggi bak tirai cahaya. Air terjun itu disebut Tengku Siwa—dan di balik keindahannya, tersimpan kisah tragis seorang pemuda yang menjadi korban kecemburuan dan pengkhianatan.
Siwa, Pemuda baik hati. Konon dahulu kala, hiduplah seorang pemuda bernama Siwa di kampung Limbung. Ia bukan pemuda biasa. Siwa dikenal sebagai sosok yang tampan, ramah, dan memiliki wajah yang sangat tampan seutuhnya—berbeda dari tujuh saudaranya yang menurut cerita, berwajah seperti biasa saja dengan bentuk tubuh unik dan langkah yang menyeret.
Kehadiran Siwa menjadi kebanggaan kampung, bahkan para gadis dari kampung-kampung sekitar kerap datang hanya untuk melihat senyumnya. Namun, justru karena kelebihan inilah, kecemburuan mulai tumbuh di hati ketujuh saudaranya.
Rencana Busuk Saudara-Saudara hari demi hari, rasa iri mereka berubah menjadi dendam. Mereka merasa Siwa telah merebut perhatian semua orang. Maka dirancanglah sebuah rencana jahat. Mereka mengajak Siwa bermain di hutan, dan menyuruhnya memanjat sebuah pohon pinang yang sudah mereka potong diam-diam bagian bawahnya, hanya tinggal sedikit yang menyangga batang pohon itu.
Dengan lugu dan tanpa curiga, Siwa memanjat pohon itu. Dan saat ia mencapai puncaknya, batang pinang itu roboh. Tubuh Siwa melayang di udara, jatuh menghantam bebatuan. Siwa sempat dibantu oleh Ibunya dengan menggunakan tali tetapi ketujuh saudara saudaranya memotong tali tersebut dan akhirnya tergelincir ke dalam jurang yang dalam, tempat air terjun itu kini berada.
Saat Siva jatuh kedalam jurang tiba tiba munculnya mahluk halus yang dalam bahasa lokal mengatakan "Kar ko Mbelek" yang artinya kar artinya tanah dan Mbelek artinya lumpur. Sontak Saudara saudaranya menjawab Mbelek. Dan seketika itu juga duka dan Kutukan Alam Tubuh Siwa tak pernah ditemukan. Namun sejak hari itu, dari jurang tempat ia jatuh, muncullah aliran air yang deras dan jernih—seolah menjadi air mata bumi yang menangisi nasib tragis sang pemuda. Warga kampung percaya bahwa roh Siwa menyatu dengan air terjun itu, menjaganya dalam kesunyian.
Karena peristiwa itu pula, nama kampungnya berubah menjadi Sano Limbung, sebagai pengingat akan tragedi dan pengkhianatan yang pernah terjadi di sana.
Warisan yang Tak Pernah Hilang hingga kini, cerita tentang Siwa masih diceritakan oleh para tetua di Kampung Tureng dan Sambor. Bagi mereka, Tengku Siwa bukan sekadar keajaiban alam, melainkan jejak dari kebaikan yang dikhianati, cinta yang tak sempat tumbuh, dan keindahan yang dikorbankan oleh rasa dengki.
Dan bila kamu berdiri di hadapan Air Terjun Tengku Siwa hari ini, kamu mungkin akan merasakan kesejukan yang berbeda—seolah alam sendiri sedang berbisik, menceritakan kembali kisah seorang pemuda baik hati yang menjadi legenda.







0 comments:
Post a Comment